Senin, 03 Maret 2014

Sakura di Sudut Sekolah


Aku baru saja bertengkar dengan temanku, Nori. Aku marah, bukan karena dia tak mau lagi berteman denganku. Tetapi karena kebohongannya, karena sifatnya yang bermuka dua. Di depanku, dia tersenyum, tapi dibelakangku dia memfitnahku. Padahal, aku percaya padanya. Hanya dia orang yang peduli padaku di lingkungan sekolah. Bahkan sampai saat ini, aku masih bertanya-tanya, apa tujuan Nori mendekatiku.
.  .  .
Seingatku, aku berlari sekencang mungkin. Meninggalkan Nori yang masih sibuk dengan caci-makinya padaku. Berlari, entah kemana tujuanku. Saat ini, pikiranku penuh dengan rasa kebencian pada orang-orang disekitarku.
Aku tiba di bawah sebuah pohon sakura yang terletak di halaman belakang sekolahku. Angin berhembus, mengeringkan genangan air yang membuat mataku berkaca-kaca. Dahan pohon yang tertiup angin, helaian kelopak sakura yang berguguran membuat mataku perlahan terpejam. Sebelum terlelap, aku berbisik, “ hey pohon, seandainya kau bisa mendengar suaraku. Maukah kau bertukar posisi denganku ? ”
.  .  .
Aku terbangun. Sesosok manusia menyerupai diriku berdiri tepat di depanku.“ Emiko, bangun...bangunlah” Dia bicara padaku. Entah mengapa tubuh ini terasa kaku. Tangan dan kakiku tak bisa bergerak.
Aku, sudah menjadi sebatang pohon. “ kau yang menginginkannya.”Kata orang itu. Dia masuk kedalam tubuhku, sementara aku terperangkap di dalam pohon ini. Awalnya aku terkejut mengetahui kejadian ini, tidak mungkin ini bisa terjadi. Tapi, setelah dipikir-pikir, tak ada ruginya menjadi pohon ketimbang hidup sebagai manusia yang melelahkan. Lebih baik berada di sudut sekolah. Aman dan damai.
Satu minggu sudah dia menjadi diriku. Dia membuat semua orang di sekelilingnya bahagia. Sementara aku, sebelum jadi begini, kuakui aku benar-benar buruk, sombong, juga menyedihkan. Mungkin itu yang membuatku tak bisa memiliki teman.
Ilalang di sekitarku berkata, “ kau jahat. Selama ini Akina selalu berusaha agar kau melihatnya. Tapi, kau benar-benar sudah melupakannya. ” Aku tak mengerti apa yang dibicarakannya.  Kelihatannya dia marah, entah apa sebabnya.
Akina, pohon yang telah menjadi diriku datang kembali. Menceritakan segala sesuatu yang telah hilang dalam ingatanku selama sebelas tahun ini. “ apa kau ingat ? aku, bibit sakura yang kau tanam sebelas tahun yang lalu. Kau yang mengukir nama itu dikulitku. Kau yang menanamku.” Aku hanya terdiam. Mengingat masa sekolah dasar, ketika aku menanam Akina bersama kakekku. Tapi, setelah kakek meninggal, aku tinggalkan dia. Aku memang jahat. Padahal dengan rumah dan sekolah yang berdekatan kuharap aku bisa selalu melihatnya.
“ kau benar-benar kejam, mengapa tak biarkan aku mati saja saat itu.” Hatiku bergetar mendengarnya. Aku terus menatap ke bawah. Ke arah rerumputan liar yang turut memarahiku. Dia menangis, lalu pergi meninggalkanku.
Lagi-lagi, ada yang bicara padaku. Sekarang giliran bunga dandelion. “ Emiko, kau tahu ? Akina selalu menceritakanmu. Dia merindukanmu, hari minggu di saat kau selalu mengunjunginya.” . “ ini kesalahanku. Karena aku meninggalkannya.” Kataku.       .  .  .
Jujur, kini aku menyesal. Saat ini aku merindukan keluargaku, merindukan tubuhku ketika aku bisa bebas kemanapun. Kini, aku hanya bisa menatap diriku dari jendela kaca kelas di sebelahku. Begini, rasanya jadi Akina, pohon yang terlupakan. Tak ada yang peduli, pada sebatang pohon dihalaman sempit yang dikelilingi pagar besi.
Dari kemarin, aku selalu melihat anak lelaki itu. mengapa anak sekolah dasar bisa masuk ke lingkungan SMA ?. Dia membawa sebotol air mineral, lalu meyiramkannya padaku, seolah tahu bahwa aku sangat butuh air. Dua hari kemudian, anak itu datang lagi. Dia masuk kedalam ruang laboratorium di lantai dua. Entah apa yang dilakukannya. Tak lama, asap keluar. Api mulai membesar, kebakaran. Tak ada jalan keluar yang aman api sudah menyebar. Aku benar-benar khawatir, kupinta angin untuk menyebarkan asap agar siapa saja bisa membantu.

Selang beberapa menit, pemadam kebakaran datang. Anak itu tetap di samping jendela, hendak melompat tetapi ragu. Tempat ini terlalu kecil, pagar besi disampingku juga menghalangi. Akhirnya seorang petugas masuk melalui celah sempit, lalu memanjat dahanku untuk menyelamatkan anak itu. setelah dia selamat, perasaanku berbeda. Aku senang, senang sekali. Mungkin begini rasanya berguna bagi orang lain. Setelah kejadian itu kepala sekolah memperbaiki kerusakan yang ada termasuk membongkar pagar besi itu. Sebagai penghormatan dia membuat taman bunga yang indah di sekitarku.
Musim semi akan segera tiba, bunga merah mudaku sebentar lagi akan mekar. Akina datang dan megembalikan tubuhku karena kebaikan yang telah kuperbuat. Akhirnya aku kembali setelah mendapat pelajaran berharga dari Akina, sahabatku yang sebenarnya.

Aku pulang kerumah. Setibanya, aku segera memeluk kedua orang tuaku. Esok harinya tahun ajaran baru setelah panjangnya masa liburan. Aku menatap Akina dari jendela kelasku. Dia selalu memperhatikanku, meski aku tak sedang melihatnya. Ilalang, rerumputan, dandelion dan angin. Terimakasih, untuk pelajaran hidupnya dan untuk kata-kata yang tak pernah bisa kudengar selama ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar