Aku
baru saja bertengkar dengan temanku, Nori. Aku marah, bukan karena dia tak mau
lagi berteman denganku. Tetapi karena kebohongannya, karena sifatnya yang
bermuka dua. Di depanku, dia tersenyum, tapi dibelakangku dia memfitnahku.
Padahal, aku percaya padanya. Hanya dia orang yang peduli padaku di lingkungan
sekolah. Bahkan sampai saat ini, aku masih bertanya-tanya, apa tujuan Nori
mendekatiku.
.
. .
Seingatku,
aku berlari sekencang mungkin. Meninggalkan Nori yang masih sibuk dengan
caci-makinya padaku. Berlari, entah kemana tujuanku. Saat ini, pikiranku penuh
dengan rasa kebencian pada orang-orang disekitarku.
Aku
tiba di bawah sebuah pohon sakura yang terletak di halaman belakang sekolahku. Angin
berhembus, mengeringkan genangan air yang membuat mataku berkaca-kaca. Dahan
pohon yang tertiup angin, helaian kelopak sakura yang berguguran membuat mataku
perlahan terpejam. Sebelum terlelap, aku berbisik, “ hey pohon, seandainya kau
bisa mendengar suaraku. Maukah kau bertukar posisi denganku ? ”
.
. .
Aku terbangun.
Sesosok manusia menyerupai diriku berdiri tepat di depanku.“ Emiko,
bangun...bangunlah” Dia bicara padaku. Entah mengapa tubuh ini terasa kaku.
Tangan dan kakiku tak bisa bergerak.
Aku,
sudah menjadi sebatang pohon. “ kau yang menginginkannya.”Kata orang itu. Dia
masuk kedalam tubuhku, sementara aku terperangkap di dalam pohon ini. Awalnya
aku terkejut mengetahui kejadian ini, tidak mungkin ini bisa terjadi. Tapi,
setelah dipikir-pikir, tak ada ruginya menjadi pohon ketimbang hidup sebagai
manusia yang melelahkan. Lebih baik berada di sudut sekolah. Aman dan damai.
Satu
minggu sudah dia menjadi diriku. Dia membuat semua orang di sekelilingnya
bahagia. Sementara aku, sebelum jadi begini, kuakui aku benar-benar buruk,
sombong, juga menyedihkan. Mungkin itu yang membuatku tak bisa memiliki teman.
Ilalang
di sekitarku berkata, “ kau jahat. Selama ini Akina selalu berusaha agar kau
melihatnya. Tapi, kau benar-benar sudah melupakannya. ” Aku tak mengerti apa
yang dibicarakannya. Kelihatannya dia
marah, entah apa sebabnya.
Akina,
pohon yang telah menjadi diriku datang kembali. Menceritakan segala sesuatu
yang telah hilang dalam ingatanku selama sebelas tahun ini. “ apa kau ingat ?
aku, bibit sakura yang kau tanam sebelas tahun yang lalu. Kau yang mengukir
nama itu dikulitku. Kau yang menanamku.” Aku hanya terdiam. Mengingat masa
sekolah dasar, ketika aku menanam Akina bersama kakekku. Tapi, setelah kakek
meninggal, aku tinggalkan dia. Aku memang jahat. Padahal dengan rumah dan sekolah
yang berdekatan kuharap aku bisa selalu melihatnya.
“
kau benar-benar kejam, mengapa tak biarkan aku mati saja saat itu.” Hatiku
bergetar mendengarnya. Aku terus menatap ke bawah. Ke arah rerumputan liar yang
turut memarahiku. Dia menangis, lalu pergi meninggalkanku.
Lagi-lagi,
ada yang bicara padaku. Sekarang giliran bunga dandelion. “ Emiko, kau tahu ?
Akina selalu menceritakanmu. Dia merindukanmu, hari minggu di saat kau selalu
mengunjunginya.” . “ ini kesalahanku. Karena aku meninggalkannya.” Kataku. . . .
Jujur,
kini aku menyesal. Saat ini aku merindukan keluargaku, merindukan tubuhku
ketika aku bisa bebas kemanapun. Kini, aku hanya bisa menatap diriku dari
jendela kaca kelas di sebelahku. Begini, rasanya jadi Akina, pohon yang
terlupakan. Tak ada yang peduli, pada sebatang pohon dihalaman sempit yang
dikelilingi pagar besi.
Dari
kemarin, aku selalu melihat anak lelaki itu. mengapa anak sekolah dasar bisa
masuk ke lingkungan SMA ?. Dia membawa sebotol air mineral, lalu meyiramkannya
padaku, seolah tahu bahwa aku sangat butuh air. Dua hari kemudian, anak itu
datang lagi. Dia masuk kedalam ruang laboratorium di lantai dua. Entah apa yang
dilakukannya. Tak lama, asap keluar. Api mulai membesar, kebakaran. Tak ada
jalan keluar yang aman api sudah menyebar. Aku benar-benar khawatir, kupinta
angin untuk menyebarkan asap agar siapa saja bisa membantu.
Selang
beberapa menit, pemadam kebakaran datang. Anak itu tetap di samping jendela,
hendak melompat tetapi ragu. Tempat ini terlalu kecil, pagar besi disampingku
juga menghalangi. Akhirnya seorang petugas masuk melalui celah sempit, lalu
memanjat dahanku untuk menyelamatkan anak itu. setelah dia selamat, perasaanku
berbeda. Aku senang, senang sekali. Mungkin begini rasanya berguna bagi orang
lain. Setelah kejadian itu kepala sekolah memperbaiki kerusakan yang ada termasuk
membongkar pagar besi itu. Sebagai penghormatan dia membuat taman bunga yang
indah di sekitarku.
Musim
semi akan segera tiba, bunga merah mudaku sebentar lagi akan mekar. Akina
datang dan megembalikan tubuhku karena kebaikan yang telah kuperbuat. Akhirnya
aku kembali setelah mendapat pelajaran berharga dari Akina, sahabatku yang
sebenarnya.
Aku
pulang kerumah. Setibanya, aku segera memeluk kedua orang tuaku. Esok harinya
tahun ajaran baru setelah panjangnya masa liburan. Aku menatap Akina dari
jendela kelasku. Dia selalu memperhatikanku, meski aku tak sedang melihatnya.
Ilalang, rerumputan, dandelion dan angin. Terimakasih, untuk pelajaran hidupnya
dan untuk kata-kata yang tak pernah bisa kudengar selama ini.