Rabu, 04 Februari 2015

Awal yang Tertunda

.
.
.
 Sudah lama sejak terakhir kali saya mem-posting sesuatu di blog ini.

Entah mengapa, saya rasa tulisan ini harusnya menjadi tulisan pertama di blog saya yang tidak jelas ini. Tapi, saya malah memasukkan cerita karangan adik saya dan teru- teru bozu yang saya copas dari blog sebelah...
 
 Awalnya saya tertarik pada blog seseorang yang saya temukan saat menjelajahi dunia internet ini, saya sangat terkesan dengan apa yang dituangkan orang itu dalam blognya. Selain itu desain blognya juga sangat keren menurut pendapat saya. Dan.. akhirnya saya memulai untuk membuat blog saya sendiri. Tapi, setelah itu entah mengapa rasanya ada yang salah, saya merasa jika blog yang saya buat tidak ada arti.., 

Dan.. akhirnya saya sadar kalau blog itu seharusnya menjadi tempatmu untuk menuangkan segala yang ada di dalam pikiranmu dan yang terpenting lagi adalah "tulisanmu sendiri"

Dosen bahasa Indonesia saya pernah mengatakan "jangan pernah mengambil hasil karya orang lain tanpa izin, walaupun hanya sebuah kalimat.. tetap saja itu hasil pemikiran orang lain"
yahh.. kira- kira begitulah katanya. Seseorang tak akan mungkin berkembang jika selalu meniru apa yang orang lain lakukan. Saya pun juga sama, hal yang dulu saya anggap remeh, ternyata begitu penting dan sangat fatal akibatnya jika saya tidak tahu. Terima kasih untuk infonya bu dosen ^^. Oh ya, dan terima kasih juga buat nilai A nya di mata kuliah ibu.. hehe.. saya sangat tertolong. Walau pun semester depan gak ketemu ibu lagi, tapi .. perkuliahan yang ibu berikan sangat membantu saya. 
Haha.. kok jadi kesan dan pesan :D .. ya sudahlah ..

Hmmm..
Mungkin nantinya tulisan yang saya post kebanyakan tentang diri dan perasaan saya, tapi .. saya harap ada seseorang yang sangat jauh yang akan membacanya. Dan saya harap dia tidak akan tertawa.

Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk semua hal yang saya sukai, temasuk menulis. Walau masih pemula, saya yakin dengan usaha, kemauan, serta do'a .. semuanya akan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi ..
Karena saya yakin dengan kemampuan saya sendiri dan karena saya mempercayai diri saya ini.
Saya harap, dirimu yang sedang membaca tulisan ini  akan menjadi orang yang percaya pada diri kalian juga, jangan takut akan halangan, dan percayalah "Tidak ada usaha yang sia- sia" 
hehe.. -gomen, itu ucapan kagami-kun- ^^

Oke.. sampai disini dulu..
Terima kasih Sudah meluangkan waktunya
Jaa nee~

Oh ya,
Saat menulis ini,saya adalah mahasiswi semester 1^^
 





Jumat, 07 Maret 2014

Teru Teru- chan


 
Teru teru bōzu (bahasa Jepang 照る照る坊主、てるてる坊主) adalah boneka tradisional Jepang yang terbuat dari kertas atau kain putih yang digantung di tepi jendela dengan menggunakan benang. Dari segi bentuk dan pembuatannya, boneka tersebut mirip dengan boneka hantu seperti yang dibuat pada saat Halloween. Jimat ini diyakini memiliki kekuatan ajaib yang mampu mendatangkan cuaca cerah dan menghentikan atau mencegah hujan. Dalam bahasa Jepang, teru adalah kata kerja yang berarti "bersinar" atau "cerah", dan bōzu dapat berarti bhiksu, atau dalam bahasa pergaulan masa kini dapat berarti "kepala botak"; kata itu juga merupakan istilah akrab untuk menyebut bocah lelaki.
Teru teru bōzu menjadi populer selama zaman Edo di antara masyarakat urban, di mana anak-anak membuatnya untuk memohon cuaca baik sehari sebelumnya dan bernyanyi "pendeta cuaca baik, cerahkan cuaca esok hari." 

 
Secara tradisonal, jika cuaca berubah cerah, mereka akan digambari mata (bandingkan dengan daruma), sesajen berupa sake suci (神酒) dituangkan pada mereka, kemudian dihanyutkan di sungai. Di masa kini, anak-anak membuat teru-teru-bōzu dari kertas tisu atau kapas dan benang lalu menggantungnya di jendela ketika mengharapkan hari yang cerah, seringkali sebelum hari piknik sekolah. Menggantungnya secara terbalik berarti memohon agar hujan turun.

  
Making Teru teru bozu ...
 

Alat dan bahan :
- Tissue
- Benang
- Gunting
- Jarum
- Spidol
Cara membuatnya :
1. Ambil tissue yang sudah disiapkan, kemudian tissuenya di bulat-bulatkan.
2. Setelah menjadi bulat, bungkus dengan sehelai tissue agar lebih terlihat bulat.
3. Letakkan bulatan tissue itu di tengah-tengah tissue baru.
4. Bungkus bulatan tadi dan balikkan posisinya agar berbentuk seperti gambar.
5. Ikat tissue yang membungkus bulatan tadi dengan benang sehingga bulatan itu benar-benar ter'kunci' di dalam tissue.
6. Ikat kuat-kuat kemudian gunting benang sisanya.
7. Bentuk teru-teru bozu semakin terlihat. Sekarang siapkan jarum dan benangnya untuk menjahit tali penggantungnya.
8. Masukkan jarum pada posisi atas kepala teru-teru bozu dan buatlah jarumnya keluar di dekat jalur masukknya (lihat gambar). Sesudah itu tarik jarum bersama benangnya keluar, potong benang pada jarak yang diperkirakan cukup, dan ikat kedua ujung benang dengan simpul mati.
9. Gambar wajah tersenyum pada bagian depan kepala teru-teru bozu dengan spidol atau jahit pola wajah teru teru bozu dengan benang.
10. Rapikan bagian bawah teru-teru bozu agar terlihat lebih rapi.
11. Tadaaaaa!!!! Teru-teru bozu siap digantung di jendela untuk menangkal hujan! :)
 
Teru- chan kawaii ^^





Senin, 03 Maret 2014

Sakura di Sudut Sekolah


Aku baru saja bertengkar dengan temanku, Nori. Aku marah, bukan karena dia tak mau lagi berteman denganku. Tetapi karena kebohongannya, karena sifatnya yang bermuka dua. Di depanku, dia tersenyum, tapi dibelakangku dia memfitnahku. Padahal, aku percaya padanya. Hanya dia orang yang peduli padaku di lingkungan sekolah. Bahkan sampai saat ini, aku masih bertanya-tanya, apa tujuan Nori mendekatiku.
.  .  .
Seingatku, aku berlari sekencang mungkin. Meninggalkan Nori yang masih sibuk dengan caci-makinya padaku. Berlari, entah kemana tujuanku. Saat ini, pikiranku penuh dengan rasa kebencian pada orang-orang disekitarku.
Aku tiba di bawah sebuah pohon sakura yang terletak di halaman belakang sekolahku. Angin berhembus, mengeringkan genangan air yang membuat mataku berkaca-kaca. Dahan pohon yang tertiup angin, helaian kelopak sakura yang berguguran membuat mataku perlahan terpejam. Sebelum terlelap, aku berbisik, “ hey pohon, seandainya kau bisa mendengar suaraku. Maukah kau bertukar posisi denganku ? ”
.  .  .
Aku terbangun. Sesosok manusia menyerupai diriku berdiri tepat di depanku.“ Emiko, bangun...bangunlah” Dia bicara padaku. Entah mengapa tubuh ini terasa kaku. Tangan dan kakiku tak bisa bergerak.
Aku, sudah menjadi sebatang pohon. “ kau yang menginginkannya.”Kata orang itu. Dia masuk kedalam tubuhku, sementara aku terperangkap di dalam pohon ini. Awalnya aku terkejut mengetahui kejadian ini, tidak mungkin ini bisa terjadi. Tapi, setelah dipikir-pikir, tak ada ruginya menjadi pohon ketimbang hidup sebagai manusia yang melelahkan. Lebih baik berada di sudut sekolah. Aman dan damai.
Satu minggu sudah dia menjadi diriku. Dia membuat semua orang di sekelilingnya bahagia. Sementara aku, sebelum jadi begini, kuakui aku benar-benar buruk, sombong, juga menyedihkan. Mungkin itu yang membuatku tak bisa memiliki teman.
Ilalang di sekitarku berkata, “ kau jahat. Selama ini Akina selalu berusaha agar kau melihatnya. Tapi, kau benar-benar sudah melupakannya. ” Aku tak mengerti apa yang dibicarakannya.  Kelihatannya dia marah, entah apa sebabnya.
Akina, pohon yang telah menjadi diriku datang kembali. Menceritakan segala sesuatu yang telah hilang dalam ingatanku selama sebelas tahun ini. “ apa kau ingat ? aku, bibit sakura yang kau tanam sebelas tahun yang lalu. Kau yang mengukir nama itu dikulitku. Kau yang menanamku.” Aku hanya terdiam. Mengingat masa sekolah dasar, ketika aku menanam Akina bersama kakekku. Tapi, setelah kakek meninggal, aku tinggalkan dia. Aku memang jahat. Padahal dengan rumah dan sekolah yang berdekatan kuharap aku bisa selalu melihatnya.
“ kau benar-benar kejam, mengapa tak biarkan aku mati saja saat itu.” Hatiku bergetar mendengarnya. Aku terus menatap ke bawah. Ke arah rerumputan liar yang turut memarahiku. Dia menangis, lalu pergi meninggalkanku.
Lagi-lagi, ada yang bicara padaku. Sekarang giliran bunga dandelion. “ Emiko, kau tahu ? Akina selalu menceritakanmu. Dia merindukanmu, hari minggu di saat kau selalu mengunjunginya.” . “ ini kesalahanku. Karena aku meninggalkannya.” Kataku.       .  .  .
Jujur, kini aku menyesal. Saat ini aku merindukan keluargaku, merindukan tubuhku ketika aku bisa bebas kemanapun. Kini, aku hanya bisa menatap diriku dari jendela kaca kelas di sebelahku. Begini, rasanya jadi Akina, pohon yang terlupakan. Tak ada yang peduli, pada sebatang pohon dihalaman sempit yang dikelilingi pagar besi.
Dari kemarin, aku selalu melihat anak lelaki itu. mengapa anak sekolah dasar bisa masuk ke lingkungan SMA ?. Dia membawa sebotol air mineral, lalu meyiramkannya padaku, seolah tahu bahwa aku sangat butuh air. Dua hari kemudian, anak itu datang lagi. Dia masuk kedalam ruang laboratorium di lantai dua. Entah apa yang dilakukannya. Tak lama, asap keluar. Api mulai membesar, kebakaran. Tak ada jalan keluar yang aman api sudah menyebar. Aku benar-benar khawatir, kupinta angin untuk menyebarkan asap agar siapa saja bisa membantu.

Selang beberapa menit, pemadam kebakaran datang. Anak itu tetap di samping jendela, hendak melompat tetapi ragu. Tempat ini terlalu kecil, pagar besi disampingku juga menghalangi. Akhirnya seorang petugas masuk melalui celah sempit, lalu memanjat dahanku untuk menyelamatkan anak itu. setelah dia selamat, perasaanku berbeda. Aku senang, senang sekali. Mungkin begini rasanya berguna bagi orang lain. Setelah kejadian itu kepala sekolah memperbaiki kerusakan yang ada termasuk membongkar pagar besi itu. Sebagai penghormatan dia membuat taman bunga yang indah di sekitarku.
Musim semi akan segera tiba, bunga merah mudaku sebentar lagi akan mekar. Akina datang dan megembalikan tubuhku karena kebaikan yang telah kuperbuat. Akhirnya aku kembali setelah mendapat pelajaran berharga dari Akina, sahabatku yang sebenarnya.

Aku pulang kerumah. Setibanya, aku segera memeluk kedua orang tuaku. Esok harinya tahun ajaran baru setelah panjangnya masa liburan. Aku menatap Akina dari jendela kelasku. Dia selalu memperhatikanku, meski aku tak sedang melihatnya. Ilalang, rerumputan, dandelion dan angin. Terimakasih, untuk pelajaran hidupnya dan untuk kata-kata yang tak pernah bisa kudengar selama ini.